Salam Perkenalan ! Saya anggota baru disini (milis simpa). Selanjutnya perkenankanlah kepada saya untuk ikut bergabung dan berbicara soal perjuangan kemerdekaan Papua dimilis ini. Saya mau ikutan diskusi kalian sebagai kelanjutan perdebatan sikap pro kontra effek domino dari summit para pemimpin Pergerakan perjuangan Papua beberapa waktu lalu di Portvilla Vanuatu, sikap pro kontra diperlihatkan oleh anak-anak bangsa yang empunya Papua Barat dan itu terus berlangsung sampai saat ini ketika tulisan ini dibuat.
Adapun respon sebagai akibat sikap pro-kontra dari summit Vanuatu oleh para pejuang Papua terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang merestui dan terlibat langsung dengan asumsi bahwa dengan adanya krisis kepemimpin yang akibatnya hanya main cliem selama ini dapat di pertegas kepemimpinan sehingga menjadi jelas dan lebih solid terpimpin dalam satu barisan perjuangan dari berbagai organ perjuangan selama ini.
Kedua, bagi yang tidak setuju (kontra summit Vanuatu), bagi mereka summit yang sebelumnya yang dilakukannya walau tidak refresentatif, namun karena pertemuan sektoral untuk menjawab stagnasi kepemimpinan telah di lakukan ditempat yang sama. Karena itu bagi kelompok ini apa yang di lakukan oleh Andy Ayamiseba dengan melahirkan Rex Rumekiek dan Dr Pendeta Onawane sebagai kepemimpinan baru perjuangan Papua tidaklah absah karena tanpa dihadiri oleh mereka, yang juga pejuang lama malang melintang dalam perjuangan apa yang dinamakan gerakan perjuangan pembebasan Papua sebelum ini.
Karena itu wajar sikap kita yang tidak terlibat langsung apa yang terjadi ditingkat itu sikapnya terbelah menjadi dua, ada pro dan ada kontra yang lain setuju dan yang lainnya lagi tidak setuju, masing-msing punya alasan dibelakang sikap setuju maupun tidak bagi kelompok yang tidak ikutan dalam ambil bagian perdebatan. Bagi yang sedang berdebat tetap menjalankan aktifitas perdebatan sampai pada hal-hal pribadi sebagai bagian dari black campigen untuk menjatuhkan lawan yang menjadi seteru debatnya. Perdebatan ini sendiri sesungguhnya jika diamati, maka punya dampak positif dan negatif tergantung dari sisi mana kita melihatnya dan siapa yang melihatnya baik buruk dari perdebatan sesama anak bangsa pejuang Papua ini.
Dampak Positif
Banyak yang menduga bahwa perdebatan apalagi lalulintas umum internet (meminjam istilah Herman Wainggai), tidaklah baik sebab musuh akan mengetahui isi perdebatan dan akan mematahkan dan masuk merusak perjuangan kalau mengetahui "kekurangan" atau tahu kita punya kelebihan strategi perjuangan Papua. Demikian dugaan bagi yang berfikir akan bahaya publikasi komunikasi perjuangan dalam milis simpa, jika itu komunikasi perdebatan sampai pada hal-hal yang strategis dari tekniks operasional perjuangan. Walau demikian justeru yang berpendapat dan berpandangan demikian justeru bagian dari atau tidak lain, tidak bukan dari pendebat itu sendiri. Karena itu alasan dari tidak perlunya atau dikuranginya perdebatan sesama pejuang dimilis simpa sesungguhnya secara substansial tidak rasional atau tidak berdasar. Ibarat lempar batu sembunyi tangan.
Dibawah judul kecil diatas yang ingin ditinjau dalam tulisan ini adalah bahwa bagi yang berfikir spekulatif sesungguhnya kebenaran tidak akan ketemu tanpa ada perdebatan. Sebab secara epistemologis perdebatan sesungguhnya bukan lain dari perjuangan apa yang dinamakan pembebasan atau kemerdekaan Papua itu sendiri. Tanpa ada perjuangan perdebatan, tidak diketahui atau malah sama sekali tidak ada perjuangan Papua Merdeka. Dalam teori, misalnya Hegel, Thesis tentu akan muncul anti thesa sebagai akibatnya melahirkan sintesa. Jadi Papua dijajah Indonesia adalah thesis, dan perjuangan melawan penjajahan adalah antithesa dan harapan atau terwujudnya kedaulatan (kemerdekaan Papua) adalah sintesa. Oleh sebab itu teori Hegel sesungguhnya apapun dan dimanapun dialektika adalah adanya suatu kehidupan dalam apapun perjuangan, ada kehidupan, ada perjuangan. Tapi jika sebaliknya maka patut diduga perjuangan atau perubahan suatu komunitas statis, vacum, tidak ada perubahan, tidak ada perjuangan. Demikian juga jika tiodak ada perdebatan maka sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan perjuangan Papua merdeka.
Dampak Negatif
Bagi yang menggangap bahwa perdebatan tidak perlu beranggapan demikian banyak alasan, sebagaimana alasan itu masuk akal dan bisa dipahami, bahwa memang dengan berdebat apalagi sampai kepada hal-hal pribadi dan saling menjatuhkan antar sesama, maka terkesan bahwa kita sesungguhnya lagi retak. Sebagai akibatnya perjuangan terbengkalai beberapa saat untuk kembali konsolidasi atau melahirkan generasi baru pejuang, penyatu, sekaligus pemersatu perjuangan secara total dan kuat. Karena itu bagi yang keberatan perdebatan bersembunyi dibalik alasan ini, agar tetap utuh solid dan kelihatan kuat dan ini yang paling penting bagi cara pikir ini, jangan sampai diketahui pihak musuh, perdebatan perjuangan Papua oleh anak-anak Pejuang Papua jangan sampai diketahui oleh BIN/TNI-POLRI dan antek-antek kolonialisme.
Oleh sebab itu salah seorang netter bahkan rela dierase oleh moderator saking muaknya melibat dan melihat perdebatan dimilis ini. Karena baginya sebagaimana alasan dikemukakan diatas, bahwa perdebatan hanya membuang-buang energi saja dan hanya mempertontonkn kelemahan dihadapan musuh, dan kita hanya mempertunjukkan kelemahan dan kekurangan yang ada dalam gerakan perjuangan Papua Merdeka. Oleh sebab itu perdebatan tidak perlu. Dan jangan sampai ada perdebatan, apalagi dengan menggunakan nama samaran hanya untuk menghujat sesama pejuang, yang seharusnya terus selalu sabahat.
Menimbang Pro/Kontra Perdebatan
Dalam bagian tulisan ini saya tidak ingin banyak menghadirkan teori dibelakang alasan positifka atau negatif suatu perdebatan, jika perdebatan itu ada dalam pergerakan perjuangan oleh para pejuang Papua. Kecuali disini hanya mau dikatakan bahwa perdebatan adalah suatu konsekuensi logis adanya suatu dinamika dalam gerakan perjuangan Papua yang pada akhirnya akan menemukan format ideal suatu landasan pijak untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan. Tanpa ada perdebatan antar sesma, kita tidak pernah mengerti sejauh mana dan apa batasnya nasionalisme, kita tidak pernah tahu kekuatan dan kekurangan apa yang dimiliki bangsa ini (Papua), tanpa perdebatan sesungguhnya perjuangan itu sendiri tidak ada, tidak diperjuangkan kecuali kita bersembunyi dibalik, kata-kat penuh bijak dan sambil mensakralkan seakan kitalah yang paling bertanggungjawab atas pembebasan nasib dan masa depan perjuangan Papua Barat, tapi strategi dan taktik perjuangan kita sendiri tanpa diuji dan terus begitu akhirnya gagal selalu dan selamanya, maka sesungguhnya tidak ada pembebasan Papua, selain gerakan sporadis dan isindental tanpa apalagi itu konteks perdebatan anak-anak Papua dalam milis simpa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar